Pukul 7.30 pagi aku berangkat dari rumah ketempat kos mu. Sore hari sebelumnya di warung enak aku sudah berjanji untuk mengantarkanmu ke dokter gigi. Sebelum berangkat tak lupa ku telepon dirimu untuk memastikan bahwa kau sudah siap untuk berangkat begitu aku sampai di kos, rumah salah satu caleg itu. Tapi kau tidak mengangkat teleponku sama sekali. Mungkin saja kau sedang mandi sehingga tidak mungkin menjawab telepon ku lalu aku putuskan untuk berangkat saja daripada nanti kau menungguku terlalu lama.
Seperti biasa aku berhenti terlebih dahulu di Tomira untuk membeli sekaleng nescafe. Akhir-akhir ini aku memang banyak mengkonsumsi kopi karena tidur setelah subuh lalu berangkat ke kantor lagi pukul 9. Begitu keluar dari Tomira masih saja aku telepon dirimu, tapi tetap saja tidak ada jawaban. OK, mungkin mandimu yang lama sehingga belum selesai juga dan aku lanjutkan perjalanan ke kos mu. Begitu di depan kosmu, kau masih saja tidak bisa aku telepon. Akupun mencoba ke masjid Agung Manunggal, karena memang tempat itu adalah tempat yang paling aku sukai ketika menunggumu, dan aku bisa shalat Dhuha terlebih dahulu. Tempatnya sangat dekat dengan kosmu aku tinggal keluar dari masjid, lalu belok kiri.
Apa daya, hari Minggu lalu masjid Agung Manunggal sedang ada pengajian. Yang langsung terpintas di pikiranku tinggal Masjid Al-Wafa. Salah satu masjid yang membuatku merasa nyaman saat disana. Entah kenapa. Setelah selesai shalat dhuha, kucoba lagi untuk meneleponmu. Tapi masih saja tidak ada jawaban, lalu aku buka Whatsapp, ternyata ada beberapa Whatsapp yang sudah kau kirimkan tapi tidak bisa terkirim dan baru bisa masuk saat aku membuka aplikasi itu. Kau bilang bahwa kau akan siap pukul 10.00 pagi. Aku hanya menjawab “OK baiklah”. Aku pun menunggu di teras masjid Al-Wafa sampai pukul 9.50 kemudian mengirimkan Whatsapp kepadamu bahwa aku akan sampai 10 menit lagi. Sambil keluar dari teras masjid. Sampai di kos mu aku telepon lagi dirimu bahwa aku sudah sampai di bawah.
Dan kau menanyakan “Mau kemana kita hari ini, kak?”
Dan aku jawab, “Seperti yang aku bilang kemarin. Kita ke tempat yang Vivi mau. Today is yours”
“Kita isi parfum dulu ya, kak”
“OK, baiklah”
Dan akhirnya kita jalan menuju tempat pengisian parfum di dekat lempuyangan. Setelah mengisi parfum, kau menanyakan kita kemana lagi?Akupun bingung, karena saat ini kita di tengah kota. Saat aku ajak kau ke Kaliurang, kau menolak. Akhirnya aku mengajakmu ke Starbuck JCM untuk melanjutkan obrolan kita Sabtu sore kemarin di Warung Enaak karena memang aku sangat rindu denganmu dan ingin melanjutkan obrolan kita kemarin sore. Starbuck satu-satunya tempat yang bisa kita kunjungi, karena kau sendiri sudah pernah bilang bahwa kau tidak suka kopi, minuman manis, maupun coklat sedangkan aku sedang butuh kopi.
1 Smoked Beef Quiche, 1 Upsize Dark Mocha Capuchino dengan tambahan Espresso yang aku pesan dan 1 Upsize Green Tea Cream dengan Frap, 1 Almont Croisant, dan juga 1 Pandan Gula Aren Cake, yang kau pesan menemani obrolan kita tentang banyak hal. Tentang kau, aku, adik-adikku, Akbar, ayahmu, dan ibumu. Aku sangat menyukainya, dan aku bilang bahwa aku ingin sekali bertemu dengan Akbar, ya aku ingin sekali memenuhi janjiku untuk memancing dengannya. Seperti yang pernah dia minta beberapa bulan lalu. Lalu ku bilang bahwa ibuku selalu menanyakanmu, karena setelah bulan puasa lalu kau belum pernah lagi ke rumah. Dan saat Idul Fitri pun kau membatalkannya saat kita makan di Bakso Klenger karena kau bilang ayahmu datang ke Jogja dan minta untuk di jemput sore itu juga. Kaupun mengamininya dan akan main ke rumah lagi.
Hingga pada pukul 13.00 aku katakan bahwa kita shalat Dzuhur dulu, kita pun naik ke lantai 3 mall. Dan kau hanya bisa menunggu di depan karena kau bilang bahwa kau sedang berhalangan. Setelah aku selesai shalat Dzuhur, kita lanjutkan jalan-jalan di JCM dan aku sangat menikmatinya. Mungkin karena aku sangat rindu denganmu. Semenjak Idul Fitri, setiap aku pulang ke kotamu, Jogja. Kamu selalu sedang sibuk, baru hari ini kita bisa jalan bersama.
Gramedia, tempat yang akhirnya kita kunjungi. Kau bilang ingin mencari buku Obsetry Ginecology. Saat kamu mencari, aku membaca beberapa buku terlebih dahulu. Seringkali aku terpaku dengan buku sejarah jika sedang berada di Gramedia. Dan tiba-tiba aku baru sadar bahwa aku kehilanganmu. Aku berputar putar di sekitar toko untuk mencarimu, setelah ketemu kita lanjutkan jalan-jalan di toko yang sama. Dan saat kau lihat ingin boneka beruang dengan Toga di atas, aku jadi teringat ceritamu saat minta hadiah boneka besar dengan toga pada Mas Hendra. Entah kenapa kau batal untuk mengambilnya. Dan kitapun melanjutkan keliling, lalu kau lihat buku dengan judul “Kado Pernikahan Istimewa” dan kau menanyakan tentang buku itu kepadaku. Aku sepertinya bilang masih ada yang lain lalu kita menemukan buku berjudul “Hadiah Pernikahan Terindah”.

Saat kau menanyakan mana buku yang sebaiknya diambil, aku berfikir sejenak dan mencoba membaca maksud dari judul kedua buku itu. Dan akhirnya aku bilang “Kado Pernikahan Istimewa” logikanya “Hadiah Pernikahan Terindah” adalah panduan jika sudah menikah, sedangkan “Kado Pernikahan Istimewa” adalah panduan untuk menuju kesana, sebelum menikah. Hingga pada akhirnya kau menerima masukanku dan mengambil buku itu.
Masih tetap kita berkeliling di toko itu, saat kau lihat celengan panda, kau bilang mau celengan itu. Kau bilang ingin dua, dan sama-sama kita meminta penjaga untuk mencarikan celengan lain yang serupa. Lalu berkata ingin nabung untuk nikah. Dalam hati aku bilang celenganya untukku satu. Aku mau membawa pulang salah satunya saat nanti sampai di kosmu. Aku mau menabung untuk terus bersamamu. Setelah membayar semuanya kita lanjutkan untuk makan.
Namun sebelum makan saat kita duduk di bangku depan cafetaria JCM, saat aku mau memfotomu. Terlihat panggilan masuk “My Future Husband” wtf, siapa ya? Akupun hanya memberikannya padamu tanpa mengangkatnya karena tidak etis jika aku yang menerimanya. Setelah selesai telepon kau bilang bahwa itu Paulla, akupun merasa tenang.
Saat aku mencoba memesan minum untuk kita, kasir bilang bahwa tidak bisa debit atau kredit. Omg, aku baru ingat bahwa uang yang aku bawa sudah aku pakai untuk membayar parfum saat di lempuyangan tadi. Untung saja masih ada uang 50 ribu di dalam dompetku. Dalam obrolan kita di cafetaria itu, berkali-kali Paulla telepon menanyakan tentang dokumen BPJS pasien dia. Lalu pada akhirnya kau mengalah untuk segera pulang.
Saat kita melewati eskalator menuju basement mall dan kau bilang sesuatu saat kita melewati depan toko perhiasan perak. Aku bilang padamu “Mau?Ayo” dan kaupun kesulitan memilih cincin yang pas untuk jarimu. Aku hanya melihat-lihat dan pada akhirnya menemukan cincin yang mungkin paling cocok dan pas dijarimu. Saat kau coba dan ternyata pas di jari, kau tanyakan. “Kok bisa tau ukuran yang pas” tapi aku hanya senyum dan mengatakan dalam hati bahwa aku hanya mencoba memahamimu, karena itu aku tau ukuran jarimu. Setelah selesai membayar dua cincin itu, 1 cincin yang aku pilih dan 1 cincin lain yang sedikit terlalu besar di jari manismu. Aku memasangkan kedua cincin itu di jari manismu. Mbak-mbak yang jual cuma tersenyum. Dan kau bilang “Sudah cocok loh kak” akupun hanya berkata dalam hati bahwa aku akan terus berjuang untuk terus bersamamu.

Leave a Reply