Mantan

Pagi ini aku bertemu dengan mantan pacarku yang baru saja berpisah denganku pada bulan Maret yang lalu. Dia bertanya apakah aku masih mengharapkannya dan mau kembali padanya. Yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah kau, aku sudah bertemu dengan orang yang selalu ada di mimpiku dan aku tidak akan pernah meninggalkannya atau mengabaikannya seperti yang pernah dia lakukan padaku. Lalu dengan jelas dan tegas aku katakan padanya bahwa aku tidak lagi mengharapkanmu dan tidak ada lagi perasaan dalam hatiku padamu. Hingga berapa kali dia menanyakan pertanyaan yang sama dan jawabanku juga selalu sama. Mungkin hatiku terlalu sakit karena dia sudah mengabaikan kesungguhanku.

Begitu terbangun aku sadar bahwa itu semua adalah mimpi. Ya, sejak aku tidur di kantor hari Senin pagi minggu ini sudah beberapa kali aku alami mimpi yang sangat jelas. Mulai dari bertemu denganmu dan melanjutkan obrolan hari Minggu lalu sampai bertemu dengan mantan pacarku yang kualami pagi ini. Lalu badanku terasa sangat dingin begitu aku bangun. Timbul rasa bersalah padamu di dalam hatiku, aku terlalu dalam mecintai kalian semua, orang orang yang aku tulis tadi malam.

Yang bisa aku katakan padamu hanyalah kata maaf karena sudah mencintai kalian terlalu dalam memalui Whatsapp. Ingin sekali aku katakan langsung tapi aku tidak berdaya.

Pada saat aku bangun hari ini pukul 3 pagi kepalaku benar-benar pusing, karena pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya kupikirkan tentang flow rumit yang dibuat Allah dan tidak aku pahami masih saja tampil seperti sebuat garbage memory. Yang kurasakan bukan lagi migrain karena kedua sisi kepala belakang bagian kanan dan kiri semuanya sangat sakit. Hanya duduk sambil memikirkan apa yang terjadi, kenapa semua itu terjadi, apa maksudnya, membuat kepalaku semakin sakit.

Yang kuucapkan dalam doaku setelah tahajud pagi ini hanyalah keluhan karena aku tidak paham dengan apa yang sedang aku alami. Migrain yang baru saja sembuh 6 bulan yang lalu datang lagi. Ingin rasanya aku menangis tetapi selalu saja air mataku tertahan hingga pada akhirnya aku malu karena 2 hari lalu memberikan motivasi pada Akbar untuk tidak menangis ketika dia buntu untuk menghafal surat Al-Kahfi. Aku malu padamu Akbar.

Lalu kuputuskan untuk kembali tidur setelah selesai shalat Subuh sambil mengabaikan rasa sakit itu.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *