Games

Rainbow Six: Rogue Spears Black Thorn, ya, nama salah satu video game yang pertama kali aku mainkan. Meskipun hanya trial, aku memainkan game ini setiap hari pulang dari sekolah karena game ini adalah game shooter pertama yang mainkan. Tentunya karena tidak  ada game lain.

Semenjak itu aku mulai berburu game komputer yang lain, mulai dari Age of Empire hingga Warcraft. Setelah aku masuk SMA,  jumlah game yang aku mainkan bertambah banyak karena aku mendapatkan banyak teman yang memiliki hobi yang sama. Call of Duty,  Fifa,  Rise of Nation, dan masih banyak lagi.  Pacaran?  Tidak,  aku hampir tidak pernah tertarik untuk pacaran setelah putus dengan Dyah saat kelas 1. Alasannya simpel aku hanya akan berpacaran dengan orang yang menang aku sayangi. Aku tidak pernah tertarik untuk mempermainkan wanita. 

Ibuku sering kali mencabut kontak listrik ketika aku sudah terlalu lama bermain game. Dan akupun marah ketika itu dilakukannya. Banyak orang bilang game membuat bodoh. Aku hanya mengatakan dalam hati ketika mereka menceramahi ku seperti itu. Aku bisa belajar sejarah dari Call of Duty, Age of Empire, dan Rise of Nation. Aku bisa belajar memanage dari Playboy The Mansion dan Sims City. Aku bisa belajar untuk menghargai orang lain dan berjuang untuk orang lain dari Call of Duty, Sniper Elite, dan Swat. Aku bisa tahu bagaimana menjadi sebuah team dari Counter Strike, dan Ayodance. Bahkan belajar bahasa inggris dari semua game itu. Aku bisa belajar berkomunikasi dan mendapatkan banyak teman tanpa memandang status, agama, orang tua, dan asal lewat game online.

Di sisi lain ada banyak cerita bahwa banyak orang yang “membawa” sisi buruk game ke dalam dunia nyata. Masalah itu tergantung dari orangnya. Jika dia bisa membedakan mana dunia game dan mana dunia nyata, tentunya mereka tetap bisa memisahkan semua itu. Caranya adalah mencari teman di dunia nyata. Jadi aku bermain game dengan mengimbanginya bersosialisasi dengan teman-temanku. Ikut tertawa saat mereka bahagia dan itu berduka saat mereka bersedih. Saling menasehati dan saling membantu.

Begitupun saat aku kuliah, aku masih tetap bermain game sambil tetap kuliah, dan mendesain. Dan pada masa inilah aku terkena toxic game. Hehe. Begitu seringnya aku bermain game, Tya pernah aku hiraukan saat dia menghubungiku lalu pada akhirnya kita putus. Yang aku rasakan saat putus? Aku benar-benar galau, merasa sangat bersalah dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hingga pada akhirnya setelah aku merenung, aku sadar bahwa aku terlalu ketagihan dengan game.

Sejak saat itu aku berjanji bahwa aku harus bisa membagi pekerjaan, game, dan orang-orang di sekitarku. Aku tidak pernah main-main ketika aku mengatakan aku cinta pada seseorang, bahkan setelah aku putus dengan Tya aku tidak pernah lagi pacaran karena aku tidak menemui orang yang aku inginkan. Wanita cerdas dan memiliki pandangan luas, wanita baik dan memiliki banyak kasih sayang pada keluarga. Dan aku selalu berjanji pada diriku sendiri, aku harus bisa menemukan orang seperti itu dan tidak akan pernah menjadikan nya permainanku seperti video game yang dengan sesuka hati aku bisa menentukan check point lalu mengulangnya jika game over. Aku tidak akan pernah mengatakan cinta hanya untuk permainan cukuplah aku bermain game.

Hati manusia bukanlah video game.

20181111

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *